logo mahkamah agung website ramah difable
Selamat Datang di Pengadilan Negeri Sampang Sampang adalah salah satu kabupaten yang terletak di pulau Madura propinsi Jawa Timur. Pengadilan Negeri Sampang hadir untuk memberikan fasilitas bagi para pihak yang berperkara untuk mendapatkan layanan keadilan yang terbaik dan seadil-adilnya.

Kunjungi kantor kami di Jl. Jaksa Agung Suprapto No.74 Sampang. Atau hubungi kami melalui : (telepon/fax) 0323 321511.
Peningkatan Pelayanan Pengadilan Pelayanan kami adalah pelayanan terbaik yang dapat kami berikan. Dengan dukungan teknologi informasi, Pengadilan Negeri Sampang juga memberikan layanan penelusuran perkara dan jadwal sidang dengan menggunakan aplikasi SIPP (Sistem Informasi Penelusuran Perkara) dan aplikasi-aplikasi lain melalui website ini selama 24/7. Sehingga pihak yang berperkara dapat menikmati transparansi proses berperkara yang kami laksanakan.
Menjaga Kualitas Putusan Putusan yang berkualitas adalah penting bagi kami. Didukung pula oleh keterbukaan informasi dimana putusan yang dihasilkan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sampang dapat diunduh langsung melalui website Direktori Putusan Mahakamah Agung Republik Indonesia, tidak ada kata tidak dari kami untuk selalu menjaga kualitas putusan.

Keluarga Besar Pengadilan Negeri Sampang Berkomitmen Melaksanakan Pelayanan Berstandard Akreditasi Penjaminan Mutu Peradilan Umum



Kamis, 01 Maret 2018 - 15:38:47 WIB

SIDANG LANJUTAN PEMBUNUHAN GURU BUDI OLEH SEORANG MURIDNYA

Diposting oleh :
Kategori: PN-Sampang - Dibaca: 206 kali

PTIP PN-Sampang,Kamis (01-03-2018) Sidang lanjutan pembunuhan Ahmad Budi Cahyanto guru honorer SMA Negeri 1 Torjun, yang dituntut 7,5 tahun penjara mengajukan pledoi melalui penasehat hukumnya Hafid Syafii,S.H. Pengajuan itu disampaikan dalam sidang di Pengadilan Negeri Sampang. Menurutnya, pledoi bukan untuk mengurangi masa tahanan HI melainkan hanya demi memperjuangkan hak-hak kliennya sebagai anak. Agar tetap bisa melanjutkan pendidikannya. Dari tuntutan itu dinilai wajar untuk anak dan sudah maksimal berdasarkan pasal 338 KUHP. “Karena tuntutannya lebih dari 5 tahun, maka pledoinya tidak cukup secara lisan melainkan juga dengan tertulis, kami berharap jangan sampai masa depannya terlantar,” ungkap Hafid Syafii. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Munarwi,S.H. menjelaskan penuntutan tersebut sudah memenuhi pasal 338 KUHP yaitu dengan ancaman selama 15 tahun penjara. “Namun karena ini menyangkut anak maka menjadi separuh dari tuntutan orang dewasa menjadi 7,5 tahun penjara,” tuturnya. Kata Munarwi,S.H. dalam pembelaannya, pembela meminta kepada majelis hakim agar diberi keringanan karena terdakwa selama persidangan berlaku sopan, terus terang mengakui perbuatanya. “Hal-hal yang memberatkan kepada terdakwa seperti menghilangkan sosok suami dan ayah terhadap bayi yang dikandungnya bahkan membuat trauma istri korban. Sedangkan yang meringankan yaitu si anak ini mengakui semua perbuatannya,” tandasnya. Anggota Majelis Hakim I Gede Perwata,S.H. menambahkan sidang lanjutan nantinya sidang pledoi (pembelaan) dari anak oleh penasehat hukum bersamaan dengan si anak memberikan pernyataan tertulis.

Berita Terkait